7 Tanda Work Friction Menghambat Produktivitas Tim

0
2

7 Tanda Work Friction Menghambat Produktivitas Tim

Pernah merasa satu hari kerja sudah sangat sibuk, tetapi ketika pulang ternyata tidak banyak pekerjaan penting yang benar-benar selesai?

Bisa jadi masalahnya bukan karena karyawan kurang produktif.

Bisa jadi ada terlalu banyak work friction.

Work friction adalah berbagai hambatan kecil dalam proses kerja yang membuat karyawan harus mengeluarkan waktu dan energi lebih banyak hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya sederhana.

Contohnya:

HR harus mencari data absensi dari beberapa file.

Karyawan harus mengirim pesan untuk mengajukan izin.

Atasan harus mencari riwayat lembur melalui chat lama.

Admin harus memasukkan data yang sama ke beberapa spreadsheet.

Karyawan harus menunggu karena satu proses membutuhkan persetujuan manual.

Masing-masing terlihat seperti masalah kecil.

Namun jika terjadi setiap hari dan dialami banyak orang, akumulasinya bisa sangat besar.

Menariknya, isu seperti ini semakin relevan di dunia kerja 2026. Teknologi workplace yang rumit, sistem yang terpisah-pisah, dan proses yang tidak terintegrasi dapat mengganggu meeting, kolaborasi, dan produktivitas.

Jadi, sebelum perusahaan mencari cara agar karyawan bekerja lebih cepat, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:

“Apa yang membuat mereka sulit bekerja dengan lancar?”

Apa Itu Work Friction?

Secara sederhana, work friction adalah hambatan yang muncul dalam proses kerja dan membuat pekerjaan menjadi lebih sulit, lambat, atau melelahkan dari yang seharusnya.

Work friction tidak selalu berupa masalah besar.

Justru sering kali bentuknya sangat sederhana.

Misalnya:

“Tunggu sebentar, saya cari datanya dulu.”

“Coba tanya HR.”

“File yang mana ya?”

“Sudah saya kirim di grup.”

“Saya harus input ulang.”

“Nanti saya cek laptop dulu.”

“Approval-nya belum turun.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar biasa.

Tetapi jika muncul berkali-kali setiap hari, perusahaan sebenarnya sedang kehilangan waktu produktif.

7 Tanda Work Friction Ada di Perusahaan Anda

1. HR Terlalu Banyak Menghabiskan Waktu untuk Rekap

Salah satu tanda paling mudah terlihat adalah ketika sebagian besar waktu HR habis untuk pekerjaan administratif.

Mulai dari:

  • Rekap absensi
  • Mengecek keterlambatan
  • Mengumpulkan data lembur
  • Merekap izin
  • Merekap cuti
  • Membuat laporan
  • Mengoreksi data
  • Memindahkan data antarfile

Masalahnya bukan pada pekerjaan tersebut.

Data memang harus dikelola.

Masalah muncul ketika pekerjaan yang sama harus dilakukan berulang kali secara manual.

Jika sistem sudah mencatat data secara digital dan otomatis menghasilkan laporan, waktu HR dapat dialihkan ke pekerjaan yang lebih strategis.

Hal ini sejalan dengan arah Digital HRM yang semakin menekankan efisiensi administrasi, data-driven decision making, self-service HR, dan digital performance management.

Pertanyaannya:

Berapa banyak waktu HR setiap bulan yang sebenarnya hanya digunakan untuk memindahkan data?

2. Karyawan Harus Bertanya untuk Hal yang Seharusnya Bisa Dilakukan Sendiri

Work friction juga muncul ketika karyawan terlalu bergantung kepada HR untuk urusan administratif sederhana.

Contohnya:

“Pak/Bu, saya mau izin bagaimana?”

“Saldo cuti saya berapa?”

“Slip gaji saya di mana?”

“Saya tadi lupa absen keluar.”

“Pengajuan lembur saya sudah disetujui belum?”

Jika pertanyaan tersebut terus berulang, HR akhirnya menjadi pusat layanan untuk semua hal.

Padahal sebagian proses dapat dibuat self-service.

Karyawan bisa mengakses informasi yang memang menjadi hak mereka dan mengajukan kebutuhan administratif melalui sistem.

Dengan begitu:

Karyawan lebih mandiri.

HR lebih fokus.

Proses lebih cepat.

Employee experience sendiri menjadi salah satu prioritas penting dalam dunia kerja 2026.

3. Data yang Sama Harus Diinput Berkali-kali

Ini adalah salah satu sumber work friction yang sering tidak disadari.

Misalnya data absensi dikumpulkan melalui sistem A.

Kemudian direkap ke Excel.

Setelah itu dipindahkan lagi ke sistem payroll.

Kemudian dibuat laporan baru.

Semakin banyak perpindahan data, semakin banyak pula kemungkinan terjadi kesalahan.

Bayangkan jika satu data harus diketik ulang 100 kali.

Pekerjaan tersebut bukan hanya membuang waktu.

Tetapi juga meningkatkan risiko:

  • Salah input
  • Data tidak sinkron
  • Data tertinggal
  • Duplikasi
  • Kesalahan perhitungan

Prinsip sederhana dalam digitalisasi sebenarnya bukan membuat lebih banyak sistem.

Tetapi mengurangi pekerjaan yang tidak perlu.

4. Informasi Penting Tersebar di Banyak Tempat

Coba perhatikan bagaimana informasi pekerjaan disimpan di perusahaan.

Ada di:

  • WhatsApp
  • Email
  • Google Drive
  • Excel
  • Grup Telegram
  • Dokumen fisik
  • Laptop pribadi
  • Sistem HR
  • Chat pribadi

Akibatnya, ketika seseorang membutuhkan informasi, pertanyaan pertama yang muncul adalah:

“Datanya ada di mana?”

Pencarian informasi seperti ini juga merupakan bentuk work friction.

Semakin banyak sistem yang tidak terhubung, semakin besar waktu yang diperlukan untuk menemukan informasi.

Karena itu, perusahaan perlu mulai memetakan:

Informasi apa yang paling sering dicari?

Kemudian:

Apakah informasi tersebut bisa dibuat lebih mudah diakses?

5. Approval Sederhana Memakan Waktu Terlalu Lama

Tidak semua pekerjaan membutuhkan proses persetujuan yang panjang.

Namun dalam beberapa perusahaan, hal sederhana seperti izin atau lembur bisa membutuhkan:

Karyawan → Chat atasan → Tunggu respons → Screenshot → Kirim ke HR → Input data → Rekap.

Semakin panjang rantainya, semakin besar peluang proses terhambat.

Digitalisasi dapat membantu membuat alur lebih jelas.

Misalnya:

Karyawan mengajukan → Atasan menerima → Atasan menyetujui → Data tersimpan.

Tidak perlu mencari chat lama.

Tidak perlu mencatat ulang.

Tidak perlu bertanya apakah pengajuan sudah diterima.

6. Meeting Bertambah, tetapi Keputusan Tidak Bertambah

Work friction tidak selalu berasal dari administrasi.

Meeting juga bisa menjadi sumber friction.

Meeting sebenarnya dibutuhkan untuk:

  • Mengambil keputusan
  • Menyelesaikan masalah
  • Menyamakan arah
  • Membahas pekerjaan yang membutuhkan kolaborasi

Namun meeting menjadi masalah ketika:

meeting → meeting → meeting → meeting

tetapi keputusan tetap belum jelas.

Salah satu prinsip sederhana yang bisa diterapkan:

Sebelum meeting, tentukan hasil yang ingin dicapai.

Apakah meeting tersebut untuk:

Informasi?

Diskusi?

Keputusan?

Problem solving?

Jika jawabannya tidak jelas, mungkin informasi tersebut sebenarnya cukup disampaikan melalui pesan atau dokumen.

Teknologi seharusnya mengurangi friction dalam pekerjaan, bukan menambah lapisan baru yang membuat pekerjaan semakin rumit. Isu workplace technology yang “clunky” dan terfragmentasi juga menjadi sorotan dalam laporan terbaru tentang pengalaman kerja.

7. Karyawan Merasa Sibuk, tetapi Sulit Menjelaskan Apa yang Sebenarnya Menghabiskan Waktu

Ini mungkin tanda yang paling penting.

Karyawan merasa:

“Hari ini sibuk banget.”

Tetapi ketika ditanya:

“Apa saja yang selesai?”

Jawabannya tidak selalu jelas.

Bukan berarti karyawan malas.

Bisa jadi terlalu banyak waktu terserap oleh pekerjaan kecil:

  • Input data
  • Menunggu approval
  • Mencari file
  • Membalas pertanyaan yang sama
  • Rekap laporan
  • Meeting
  • Memindahkan informasi
  • Memperbaiki kesalahan input

Inilah alasan perusahaan perlu melihat proses kerja, bukan hanya hasil akhirnya.

Jika ingin meningkatkan produktivitas, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana membuat karyawan bekerja lebih cepat?”

Coba ubah menjadi:

“Apa yang membuat karyawan kehilangan waktu?”

Cara Mengurangi Work Friction di Perusahaan

Mengurangi work friction tidak berarti semua proses harus langsung menggunakan teknologi canggih.

Mulailah dari proses yang paling sering dilakukan.

Langkah 1: Catat Pekerjaan yang Berulang

Buat daftar pekerjaan yang dilakukan setiap hari atau setiap minggu.

Misalnya:

  • Rekap absensi
  • Pengajuan cuti
  • Pengajuan lembur
  • Approval
  • Payroll
  • Laporan
  • Update data karyawan

Kemudian tanyakan:

Mana yang bisa diotomatisasi?

Langkah 2: Cari Proses yang Paling Banyak “Tunggu”

Perhatikan proses yang membutuhkan waktu menunggu.

Misalnya:

Pengajuan → menunggu → approval → menunggu → input → menunggu laporan.

Semakin banyak titik tunggu, semakin besar friction.

Langkah 3: Kurangi Input Berulang

Jika satu data sudah tersedia dalam sistem, jangan meminta orang memasukkan data yang sama lagi.

Idealnya:

Satu data → digunakan untuk beberapa kebutuhan.

Misalnya data kehadiran dapat menjadi bagian dari laporan HR dan membantu proses payroll.

Langkah 4: Berikan Akses Self-Service

Tidak semua kebutuhan karyawan harus melewati HR.

Untuk informasi dan proses tertentu, karyawan dapat diberikan akses langsung.

Contohnya:

  • Pengajuan izin
  • Pengajuan cuti
  • Data kehadiran
  • Slip gaji
  • Informasi profil

HR akhirnya tidak perlu menjadi “help desk” untuk setiap kebutuhan administratif.

Bagaimana Kantor Kita Membantu Mengurangi Work Friction?

Salah satu tujuan aplikasi Kantor Kita adalah membantu perusahaan mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dalam pengelolaan karyawan.

Melalui satu sistem, perusahaan dapat mengelola berbagai kebutuhan seperti:

  • Absensi masuk dan keluar
  • GPS dan geotagging
  • Verifikasi wajah
  • Izin
  • Cuti
  • Lembur
  • Data karyawan
  • Reimbursement
  • Tugas
  • Laporan
  • Payroll
  • Slip gaji digital

Dengan proses yang lebih terintegrasi, HR tidak perlu terus-menerus berpindah antara berbagai file untuk melakukan pekerjaan administratif.

Misalnya, karyawan dapat melakukan absensi melalui aplikasi.

Kemudian data kehadiran tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan administrasi HR.

Begitu pula dengan izin, cuti, dan lembur.

Tujuannya bukan membuat HR bekerja lebih cepat.

Tetapi:

membuat HR tidak perlu melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan secara manual.

Work Friction vs Produktivitas

Perusahaan sering kali mencari cara meningkatkan produktivitas dengan menambahkan:

  • Target baru
  • Meeting baru
  • Tools baru
  • KPI baru
  • Pelatihan baru

Padahal terkadang solusi terbaik justru adalah menghilangkan sesuatu.

Hilangkan input data yang berulang.

Hilangkan laporan yang tidak diperlukan.

Hilangkan proses approval yang terlalu panjang.

Hilangkan pencarian file yang tidak perlu.

Hilangkan pekerjaan administratif yang dapat dilakukan sistem.

Dengan kata lain:

Produktivitas tidak selalu meningkat karena kita menambahkan lebih banyak hal. Kadang produktivitas meningkat karena kita mengurangi hal-hal yang menghambat pekerjaan.

Kesimpulan

Work friction adalah masalah kecil yang bisa berubah menjadi biaya besar ketika terjadi terus-menerus.

HR yang setiap hari mencari data.

Karyawan yang menunggu approval.

Admin yang menginput data berkali-kali.

Atasan yang mencari laporan dari chat.

Semua terlihat sederhana.

Namun jika dikalikan dengan jumlah karyawan dan jumlah hari kerja dalam setahun, waktunya bisa sangat besar.

Karena itu, perusahaan perlu mulai melihat kembali proses kerja dari sudut pandang yang berbeda.

Bukan hanya:

“Apakah karyawan sudah bekerja?”

Tetapi juga:

“Apakah sistem kerja kita membuat mereka mudah bekerja?”

Di era kerja yang semakin digital, perusahaan yang mampu menghilangkan hambatan kecil dapat menciptakan proses kerja yang lebih sederhana, efisien, dan nyaman.

Kantor Kita hadir untuk membantu perusahaan mengurangi pekerjaan administratif HR melalui digitalisasi absensi, izin, cuti, lembur, payroll, dan pengelolaan karyawan dalam satu aplikasi.

Karena terkadang, cara terbaik meningkatkan produktivitas bukan membuat orang bekerja lebih keras.

Tetapi membuat pekerjaan menjadi lebih mudah.

Previous article7 Tips Kerja Cerdas di Era AI yang Wajib Dicoba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here