Boomerang Employee: Plus Minus & Strategi Rehire

0
2

Boomerang Employee: Plus Minus & Strategi Rehire Eks-Karyawan

Pernah ada karyawan yang resign, lalu beberapa waktu kemudian ingin kembali bekerja di perusahaan yang sama?

Jangan buru-buru menganggapnya sebagai langkah mundur.

Fenomena ini dikenal sebagai boomerang employee, yaitu karyawan yang pernah meninggalkan perusahaan kemudian kembali bekerja di perusahaan sebelumnya. Tren rehire seperti ini semakin banyak dibahas dalam strategi HR karena perusahaan sudah memiliki informasi tentang rekam jejak, kemampuan, dan kecocokan kandidat tersebut.

Bagi perusahaan, merekrut kembali eks-karyawan bisa menjadi peluang untuk mendapatkan talent yang sudah mengenal organisasi. Namun, keputusan ini juga memiliki risiko jika perusahaan hanya mengandalkan ingatan bahwa kandidat tersebut “dulu bagus”.

Jadi, apakah boomerang employee layak direkrut kembali?

Jawabannya: bisa, tetapi tetap harus melalui evaluasi.

Apa Itu Boomerang Employee?

Boomerang employee adalah seseorang yang pernah bekerja di suatu perusahaan, kemudian keluar, dan pada suatu waktu kembali bekerja di perusahaan yang sama. Kembalinya bisa ke posisi yang sama, posisi berbeda, atau bahkan jabatan yang lebih tinggi.

Alasannya pun beragam.

Misalnya:

  • Mendapatkan pengalaman di perusahaan lain
  • Melanjutkan pendidikan
  • Pindah domisili
  • Mencari tantangan baru
  • Ingin mengembangkan karier
  • Kondisi pribadi sudah berubah
  • Pekerjaan baru ternyata tidak sesuai ekspektasi
  • Perusahaan lama menawarkan posisi yang lebih sesuai

Artinya, resign tidak selalu berarti hubungan antara perusahaan dan karyawan harus berakhir selamanya.

Kenapa Perusahaan Mulai Melirik Eks-Karyawan?

Ada alasan praktis di balik strategi ini.

Ketika merekrut kandidat baru, HR harus mencari tahu:

“Apakah orang ini cocok dengan perusahaan?”

Sementara untuk eks-karyawan, sebagian informasi tersebut sebenarnya sudah tersedia.

Perusahaan mungkin sudah mengetahui:

  • Bagaimana performanya
  • Bagaimana cara bekerjanya
  • Bagaimana komunikasinya
  • Bagaimana kedisiplinannya
  • Bagaimana hubungan dengan tim
  • Apa kontribusinya
  • Apa alasan dia keluar

Namun, data lama tetap harus digunakan secara objektif. Perusahaan juga perlu melihat apa yang berubah selama kandidat bekerja di tempat lain.

Plus: Keuntungan Merekrut Boomerang Employee

1. Adaptasi Bisa Lebih Cepat

Eks-karyawan sudah mengenal sebagian budaya, sistem, struktur, dan cara kerja perusahaan.

Artinya, proses adaptasinya berpotensi lebih singkat dibandingkan kandidat yang benar-benar baru.

Tetap saja, rehiring bukan berarti tidak membutuhkan onboarding.

Sistem, kebijakan, struktur organisasi, atau tanggung jawab bisa saja sudah berubah sejak mereka pergi.

2. Perusahaan Sudah Memiliki Rekam Jejak

Ini salah satu keunggulan terbesar.

HR tidak hanya melihat CV atau hasil interview.

Perusahaan mungkin sudah memiliki data mengenai:

  • Evaluasi kinerja
  • Pencapaian target
  • Kehadiran
  • Kedisiplinan
  • Riwayat jabatan
  • Kompetensi
  • Kontribusi terhadap tim

Dengan data tersebut, keputusan rehire dapat dibuat berdasarkan pengalaman nyata, bukan sekadar kesan saat wawancara.

3. Membawa Skill dan Pengalaman Baru

Karyawan yang kembali tidak selalu datang dengan kemampuan yang sama seperti ketika mereka pergi.

Selama bekerja di perusahaan lain, mereka mungkin mendapatkan:

  • Skill baru
  • Pengalaman industri
  • Pengetahuan teknologi
  • Pengalaman memimpin
  • Cara kerja baru
  • Perspektif berbeda

Inilah yang membuat boomerang employee menarik.

Perusahaan mendapatkan kembali orang yang sudah dikenal, tetapi dengan pengalaman tambahan.

4. Proses Rekrutmen Bisa Lebih Efisien

Perusahaan sudah memiliki informasi awal tentang kandidat sehingga proses pengenalan dapat lebih efisien.

Namun, bukan berarti HR boleh melewati seluruh proses seleksi.

Kandidat tetap perlu dinilai berdasarkan kebutuhan posisi saat ini, bukan hanya berdasarkan performa masa lalu.

5. Bisa Menjadi Sinyal Positif bagi Employer Branding

Ketika seseorang memilih kembali ke perusahaan yang pernah ditinggalkan, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan masih memiliki daya tarik sebagai tempat bekerja.

Namun, efek ini sangat bergantung pada pengalaman karyawan dan bagaimana proses rehire dilakukan.

Minus: Risiko Merekrut Boomerang Employee

Merekrut kembali mantan karyawan bukan tanpa risiko.

Justru karena sudah mengenal kandidat, HR bisa terjebak dalam bias familiarity.

1. Masalah Lama Bisa Kembali

Pertanyaan paling penting bukan:

“Dulu dia bagus, kan?”

Tetapi:

“Kenapa dia dulu pergi?”

Jika karyawan resign karena masalah dengan atasan, kompensasi, beban kerja, budaya perusahaan, atau kesempatan karier, HR perlu memastikan apakah masalah tersebut sudah berubah.

Kalau tidak, ada kemungkinan masalah yang sama muncul kembali.

2. Ekspektasi Karyawan Bisa Lebih Tinggi

Karyawan yang kembali mungkin memiliki pengalaman dan kemampuan baru.

Akibatnya, ekspektasi terhadap:

  • Gaji
  • Jabatan
  • Benefit
  • Fleksibilitas
  • Tanggung jawab
  • Jenjang karier

bisa berbeda dari sebelumnya.

HR perlu membicarakannya sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman.

3. Bisa Memicu Kecemburuan Internal

Bayangkan seorang mantan karyawan kembali dengan jabatan dan gaji lebih tinggi dibandingkan rekan yang sudah bertahan selama bertahun-tahun.

Situasi tersebut berpotensi menimbulkan pertanyaan:

“Kenapa dia yang baru kembali mendapatkan posisi itu?”

Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan keadilan internal, bukan hanya negosiasi dengan kandidat.

Risiko ketegangan internal akibat posisi atau kompensasi boomerang employee juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan HR.

4. Perusahaan Sudah Berubah

Karyawan mungkin masih mengingat perusahaan seperti beberapa tahun lalu.

Padahal:

  • Struktur organisasi berubah
  • Atasan berubah
  • Sistem berubah
  • Teknologi berubah
  • Target bisnis berubah
  • Budaya kerja berkembang

Kandidat yang kembali perlu memahami bahwa “perusahaan yang dulu” belum tentu sama dengan “perusahaan yang sekarang.”

Jadi, Kapan Eks-Karyawan Layak Direkrut Kembali?

Tidak semua mantan karyawan cocok menjadi boomerang employee.

Rehire lebih layak dipertimbangkan jika:

Rekam Jejaknya Baik

Kandidat memiliki performa yang konsisten dan hubungan kerja yang profesional.

Alasan Resign Bersifat Situasional

Misalnya karena pindah kota, pendidikan, kesempatan karier, atau alasan pribadi yang sudah tidak relevan.

Masalah Saat Resign Sudah Selesai

Jika dulu ada masalah yang membuatnya keluar, perusahaan perlu memastikan kondisi tersebut sudah berubah.

Skill Masih Relevan

Kemampuan kandidat harus sesuai dengan kebutuhan posisi saat ini.

Ada Nilai Tambahan

Lebih menarik lagi jika selama berada di luar perusahaan kandidat mendapatkan skill atau pengalaman baru.

Ekspektasi Kedua Pihak Sesuai

Perusahaan dan kandidat harus memiliki pemahaman yang jelas tentang posisi, kompensasi, tanggung jawab, dan masa depan karier.

Strategi Rehire Eks-Karyawan yang Lebih Aman

Lalu bagaimana HR sebaiknya menjalankan strategi boomerang employee?

1. Jangan Langsung “Ambil Lagi”

Kesalahan paling umum adalah berpikir:

“Dia dulu bagus. Ya sudah, rekrut lagi.”

Padahal posisi dan kebutuhan perusahaan bisa saja sudah berubah.

Tetap lakukan proses seleksi.

2. Cari Tahu Alasan Mereka Kembali

Jangan hanya bertanya:

“Kenapa ingin kembali?”

Gali lebih jauh:

  • Apa yang didapat selama bekerja di tempat lain?
  • Mengapa sekarang ingin kembali?
  • Apa yang berbeda dari kondisi sebelumnya?
  • Apa ekspektasi terhadap perusahaan?
  • Mengapa posisi ini menarik?

Jawaban tersebut dapat membantu HR memahami motivasi sebenarnya.

3. Bandingkan Skill Dulu dan Sekarang

Buat perbandingan sederhana:

Aspek Sebelum Keluar Saat Kembali
Jabatan Staff Senior Staff
Skill Administrasi Administrasi + Analisis Data
Pengalaman 2 tahun 4 tahun
Leadership Dasar Pernah memimpin tim
Tools Basic Advanced

Dari sini HR dapat melihat apakah kandidat memang berkembang selama berada di luar perusahaan.

4. Gunakan Data Kinerja Lama

Jangan hanya mengandalkan ingatan mantan atasan.

Gunakan data yang tersedia.

Misalnya:

  • Evaluasi kinerja
  • KPI
  • Kehadiran
  • Riwayat jabatan
  • Catatan pelatihan
  • Pencapaian
  • Riwayat pekerjaan

Semakin lengkap data yang dimiliki, semakin objektif proses evaluasinya.

5. Tetap Lakukan Re-Onboarding

Walaupun sudah pernah bekerja di perusahaan, eks-karyawan tetap perlu diperkenalkan kembali dengan kondisi perusahaan saat ini.

HR dapat memberikan update mengenai:

  • Struktur organisasi
  • Kebijakan perusahaan
  • Sistem kerja
  • Aturan internal
  • Teknologi yang digunakan
  • Target posisi
  • Perubahan budaya kerja

Dengan begitu, karyawan tidak menganggap dirinya hanya “kembali ke tempat lama”.

Jangan Lupa: Data Karyawan Lama Sangat Berharga

Fenomena boomerang employee menunjukkan satu hal penting:

Data karyawan bukan hanya berguna ketika seseorang masih bekerja.

Riwayat karyawan juga dapat menjadi informasi penting di masa depan.

Misalnya, ketika perusahaan membutuhkan posisi tertentu dan ternyata mantan karyawan memiliki kompetensi yang sesuai.

Kalau data lama masih tersimpan dengan rapi, HR dapat melakukan evaluasi dengan lebih mudah.

Sebaliknya, jika data tersebar di:

  • Spreadsheet
  • Folder komputer
  • Email
  • WhatsApp
  • Dokumen fisik

mencari informasi mantan karyawan bisa menjadi pekerjaan tersendiri.

Kantor Kita Membantu HR Mengelola Data Karyawan Lebih Terstruktur

Dalam pengelolaan SDM, data yang rapi membantu HR bekerja lebih terorganisir.

Kantor Kita membantu perusahaan mengelola berbagai kebutuhan administrasi karyawan dalam satu aplikasi, mulai dari:

  • Absensi online
  • Data karyawan
  • GPS dan verifikasi wajah
  • Shift kerja
  • Izin dan cuti
  • Lembur
  • Payroll
  • Laporan karyawan

Dengan sistem yang lebih terstruktur, HR dapat mengurangi pekerjaan administratif manual dan memiliki data yang lebih mudah digunakan untuk kebutuhan operasional maupun pengambilan keputusan.

Boomerang Employee Bukan “Karyawan Gagal”, tapi Talent yang Bisa Kembali

Ada anggapan bahwa karyawan yang pernah resign berarti sudah tidak loyal.

Padahal, alasan seseorang meninggalkan perusahaan bisa sangat beragam.

Begitu pula dengan alasan mereka kembali.

Yang lebih penting adalah:

Apa yang berubah?

Jika karyawan berkembang, perusahaan berkembang, dan kebutuhan keduanya kembali bertemu, rehire bisa menjadi keputusan yang masuk akal.

Namun jika masalah lama masih ada, mempekerjakan kembali mantan karyawan hanya karena sudah dikenal justru dapat menjadi keputusan yang berisiko.

Kesimpulan

Boomerang employee dapat menjadi salah satu strategi talent acquisition yang menarik bagi perusahaan.

Keuntungannya antara lain:

  1. Adaptasi berpotensi lebih cepat.
  2. Perusahaan sudah memiliki rekam jejak karyawan.
  3. Kandidat dapat membawa skill dan pengalaman baru.
  4. Proses rekrutmen bisa lebih efisien.
  5. Dapat menjadi sinyal positif bagi employer branding.

Namun, ada pula risikonya:

  1. Masalah lama dapat terulang.
  2. Ekspektasi kompensasi bisa berubah.
  3. Berpotensi menimbulkan kecemburuan internal.
  4. Perusahaan mungkin sudah berubah sejak kandidat pergi.
  5. HR dapat terjebak pada bias terhadap performa masa lalu.

Jadi, rehire bukan sekadar “mengajak mantan karyawan kembali”.

Strategi yang tepat adalah melihat data, alasan resign, perkembangan skill, kondisi perusahaan saat ini, dan kebutuhan posisi sebelum mengambil keputusan.

Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan:

“Apakah dia pernah bekerja di sini?”

Tetapi:

“Apakah dia adalah orang yang tepat untuk kebutuhan perusahaan hari ini?”

Previous articleSkill Mismatch: Kenapa Sulit Cari Karyawan yang Tepat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here