{"id":9237,"date":"2026-08-19T17:22:30","date_gmt":"2026-08-19T10:22:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/?p=9237"},"modified":"2026-08-19T17:22:30","modified_gmt":"2026-08-19T10:22:30","slug":"surat-peringatan-karyawan-jenis-aturan-contoh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/surat-peringatan-karyawan-jenis-aturan-contoh\/","title":{"rendered":"Surat Peringatan Karyawan: Jenis, Aturan, dan Contoh"},"content":{"rendered":"<h1 class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-section-id=\"n8fk42\" data-start=\"0\" data-end=\"57\">Surat Peringatan Karyawan: Jenis, Aturan, dan Contohnya<\/h1>\n<p data-start=\"59\" data-end=\"254\"><strong data-start=\"59\" data-end=\"84\">Surat Peringatan (SP)<\/strong> merupakan salah satu bentuk pembinaan yang digunakan perusahaan ketika karyawan melakukan pelanggaran terhadap aturan, tata tertib, atau kewajiban yang telah ditetapkan.<\/p>\n<p data-start=\"256\" data-end=\"460\">Bagi HR, surat peringatan bukan sekadar surat teguran. Dokumen ini juga menjadi bagian dari administrasi ketenagakerjaan yang perlu dibuat secara jelas, objektif, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.<\/p>\n<p data-start=\"462\" data-end=\"640\">Dalam praktiknya, masih banyak pertanyaan mengenai <strong data-start=\"513\" data-end=\"639\">kapan SP diberikan, apakah harus selalu SP 1, 2, dan 3, berapa lama masa berlaku SP, serta apakah SP otomatis berujung PHK<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"642\" data-end=\"780\">Artikel ini membahas pengertian, jenis, aturan, prosedur, hingga contoh surat peringatan karyawan yang dapat menjadi referensi perusahaan.<\/p>\n<blockquote data-start=\"782\" data-end=\"960\">\n<p data-start=\"784\" data-end=\"960\"><strong data-start=\"784\" data-end=\"796\">Catatan:<\/strong> Artikel ini bersifat informasi umum. Penerapan SP perlu disesuaikan dengan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, PKB, dan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.<\/p>\n<\/blockquote>\n<h2 data-section-id=\"869afy\" data-start=\"967\" data-end=\"995\">Apa Itu Surat Peringatan?<\/h2>\n<p data-start=\"997\" data-end=\"1176\"><strong data-start=\"997\" data-end=\"1176\">Surat Peringatan adalah dokumen resmi perusahaan yang diberikan kepada karyawan sebagai bentuk teguran atas pelanggaran atau tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan kerja.<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"1178\" data-end=\"1327\">SP dapat digunakan sebagai sarana pembinaan agar karyawan mengetahui kesalahannya dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki perilaku atau kinerjanya.<\/p>\n<p data-start=\"1329\" data-end=\"1380\">Contoh alasan perusahaan memberikan SP antara lain:<\/p>\n<ul data-start=\"1382\" data-end=\"1657\">\n<li data-section-id=\"4u3jlb\" data-start=\"1382\" data-end=\"1408\">Sering datang terlambat.<\/li>\n<li data-section-id=\"l1agkj\" data-start=\"1409\" data-end=\"1446\">Tidak masuk kerja tanpa keterangan.<\/li>\n<li data-section-id=\"1giq0sk\" data-start=\"1447\" data-end=\"1482\">Melanggar tata tertib perusahaan.<\/li>\n<li data-section-id=\"9nzths\" data-start=\"1483\" data-end=\"1518\">Tidak menjalankan prosedur kerja.<\/li>\n<li data-section-id=\"2hjh7m\" data-start=\"1519\" data-end=\"1558\">Mengabaikan instruksi kerja yang sah.<\/li>\n<li data-section-id=\"53nrpz\" data-start=\"1559\" data-end=\"1592\">Melakukan pelanggaran berulang.<\/li>\n<li data-section-id=\"s5mtsa\" data-start=\"1593\" data-end=\"1657\">Melanggar ketentuan yang tercantum dalam peraturan perusahaan.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"1659\" data-end=\"1745\">Pelanggaran yang menjadi dasar SP sebaiknya memiliki bukti dan dokumentasi yang jelas.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"1vp9dub\" data-start=\"1752\" data-end=\"1805\">Apakah Surat Peringatan Wajib Diberikan Perusahaan?<\/h1>\n<p data-start=\"1807\" data-end=\"1885\">Tidak semua pelanggaran otomatis harus melalui pola SP 1, SP 2, kemudian SP 3.<\/p>\n<p data-start=\"1887\" data-end=\"2365\">Dalam konteks PHK karena pelanggaran, <strong data-start=\"1925\" data-end=\"1951\">PP Nomor 35 Tahun 2021<\/strong> mengatur bahwa PHK dapat dilakukan apabila pekerja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau PKB dan sebelumnya telah diberikan surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut, dengan masa berlaku masing-masing paling lama 6 bulan, kecuali ditetapkan lain dalam dokumen ketenagakerjaan tersebut.<\/p>\n<p data-start=\"2367\" data-end=\"2561\">Artinya, perusahaan perlu melihat terlebih dahulu <strong data-start=\"2417\" data-end=\"2476\">aturan internal perusahaan dan dasar hukum yang relevan<\/strong>, bukan sekadar menganggap setiap pelanggaran harus selalu berujung SP 1 sampai SP 3.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"121m9uh\" data-start=\"2568\" data-end=\"2601\">Jenis Surat Peringatan Karyawan<\/h1>\n<p data-start=\"2603\" data-end=\"2666\">Secara umum, perusahaan mengenal tiga tahapan surat peringatan.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"14i4t2j\" data-start=\"2668\" data-end=\"2705\">1. Surat Peringatan Pertama (SP 1)<\/h2>\n<p data-start=\"2707\" data-end=\"2800\">SP 1 biasanya diberikan ketika karyawan melakukan pelanggaran yang membutuhkan teguran resmi.<\/p>\n<p data-start=\"2802\" data-end=\"2923\">Tujuannya bukan hanya memberikan sanksi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memperbaiki pelanggaran.<\/p>\n<p data-start=\"2925\" data-end=\"2935\">Contohnya:<\/p>\n<blockquote data-start=\"2937\" data-end=\"3025\">\n<p data-start=\"2939\" data-end=\"3025\">Karyawan beberapa kali terlambat masuk kerja dan telah mendapatkan teguran sebelumnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"3027\" data-end=\"3050\">SP 1 dapat menjelaskan:<\/p>\n<ul data-start=\"3052\" data-end=\"3229\">\n<li data-section-id=\"1a9o4d3\" data-start=\"3052\" data-end=\"3072\">Jenis pelanggaran.<\/li>\n<li data-section-id=\"1mqtjp9\" data-start=\"3073\" data-end=\"3090\">Waktu kejadian.<\/li>\n<li data-section-id=\"1jitrjp\" data-start=\"3091\" data-end=\"3118\">Ketentuan yang dilanggar.<\/li>\n<li data-section-id=\"1pl8bdb\" data-start=\"3119\" data-end=\"3156\">Tindakan perbaikan yang diharapkan.<\/li>\n<li data-section-id=\"q7lhnj\" data-start=\"3157\" data-end=\"3178\">Masa berlaku surat.<\/li>\n<li data-section-id=\"9chnah\" data-start=\"3179\" data-end=\"3229\">Konsekuensi apabila pelanggaran kembali terjadi.<\/li>\n<\/ul>\n<h2 data-section-id=\"1gjeip7\" data-start=\"3236\" data-end=\"3271\">2. Surat Peringatan Kedua (SP 2)<\/h2>\n<p data-start=\"3273\" data-end=\"3448\">SP 2 dapat diberikan ketika karyawan kembali melakukan pelanggaran atau melakukan pelanggaran lain dalam periode berlakunya peringatan sebelumnya, sesuai ketentuan perusahaan.<\/p>\n<p data-start=\"3450\" data-end=\"3539\">SP 2 menunjukkan bahwa pembinaan sebelumnya belum menghasilkan perbaikan yang diharapkan.<\/p>\n<p data-start=\"3541\" data-end=\"3645\">Karena itu, isi surat sebaiknya mencantumkan riwayat pelanggaran yang relevan agar dokumentasinya jelas.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"1lhel40\" data-start=\"3652\" data-end=\"3688\">3. Surat Peringatan Ketiga (SP 3)<\/h2>\n<p data-start=\"3690\" data-end=\"3768\">SP 3 biasanya menjadi peringatan terakhir dalam mekanisme bertahap perusahaan.<\/p>\n<p data-start=\"3770\" data-end=\"3970\">Apabila karyawan kembali melakukan pelanggaran yang menjadi dasar tindakan disipliner, perusahaan dapat mempertimbangkan tindakan selanjutnya sesuai peraturan perusahaan dan ketentuan ketenagakerjaan.<\/p>\n<p data-start=\"3972\" data-end=\"4129\">Namun, <strong data-start=\"3979\" data-end=\"4048\">SP 3 tidak boleh dipahami sebagai PHK otomatis dalam setiap kasus<\/strong>. Proses selanjutnya tetap perlu mengikuti dasar hukum dan prosedur yang berlaku.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"1xjxwwp\" data-start=\"4136\" data-end=\"4180\">Berapa Lama Masa Berlaku Surat Peringatan?<\/h1>\n<p data-start=\"4182\" data-end=\"4453\">PP Nomor 35 Tahun 2021 mengatur bahwa surat peringatan diterbitkan secara berurutan dan <strong data-start=\"4270\" data-end=\"4334\">masing-masing berlaku untuk jangka waktu paling lama 6 bulan<\/strong>, kecuali ditetapkan lain dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau PKB.<\/p>\n<p data-start=\"4455\" data-end=\"4535\">Karena itu, HR perlu mencantumkan periode berlaku SP secara jelas dalam dokumen.<\/p>\n<p data-start=\"4537\" data-end=\"4547\">Contohnya:<\/p>\n<p data-start=\"4549\" data-end=\"4602\"><strong data-start=\"4549\" data-end=\"4602\">Masa berlaku: 1 September 2026 \u2013 28 Februari 2027<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"4604\" data-end=\"4699\">Dengan begitu, perusahaan dan karyawan memiliki catatan yang jelas mengenai periode peringatan.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"szewq8\" data-start=\"4706\" data-end=\"4759\">Apakah SP 1, SP 2, dan SP 3 Harus Selalu Berurutan?<\/h1>\n<p data-start=\"4761\" data-end=\"4894\">Tidak dapat disimpulkan bahwa semua kasus wajib menggunakan pola yang sama tanpa melihat ketentuan internal dan jenis pelanggarannya.<\/p>\n<p data-start=\"4896\" data-end=\"5211\">PP Nomor 35 Tahun 2021 juga mengatur mengenai <strong data-start=\"4942\" data-end=\"4975\">pelanggaran bersifat mendesak<\/strong> yang dapat diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau PKB. Untuk pelanggaran tertentu yang telah ditetapkan sebagai pelanggaran mendesak, terdapat ketentuan berbeda dalam proses PHK.<\/p>\n<p data-start=\"5213\" data-end=\"5466\">Contoh yang disebut dalam PP tersebut antara lain penipuan, pencurian atau penggelapan barang\/uang perusahaan, memberikan keterangan palsu yang merugikan perusahaan, serta beberapa bentuk pelanggaran serius lainnya.<\/p>\n<p data-start=\"5468\" data-end=\"5644\">Karena itu, HR sebaiknya tidak membuat keputusan hanya berdasarkan asumsi bahwa <strong data-start=\"5548\" data-end=\"5587\">&#8220;pelanggaran berat = langsung SP 3&#8221;<\/strong> atau <strong data-start=\"5593\" data-end=\"5643\">&#8220;semua pelanggaran harus SP 1 terlebih dahulu&#8221;<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"5646\" data-end=\"5696\">Periksa dasar aturan yang berlaku pada perusahaan.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"sipvnj\" data-start=\"5703\" data-end=\"5735\">Apa Saja Isi Surat Peringatan?<\/h1>\n<p data-start=\"5737\" data-end=\"5831\">Surat peringatan sebaiknya dibuat secara objektif dan tidak menggunakan bahasa yang emosional.<\/p>\n<p data-start=\"5833\" data-end=\"5875\">Beberapa informasi yang dapat dicantumkan:<\/p>\n<h3 data-section-id=\"fsayq\" data-start=\"5877\" data-end=\"5904\">1. Identitas Perusahaan<\/h3>\n<p data-start=\"5906\" data-end=\"5959\">Nama dan identitas perusahaan yang menerbitkan surat.<\/p>\n<h3 data-section-id=\"1s5lmin\" data-start=\"5961\" data-end=\"5986\">2. Identitas Karyawan<\/h3>\n<p data-start=\"5988\" data-end=\"5997\">Meliputi:<\/p>\n<ul data-start=\"5999\" data-end=\"6064\">\n<li data-section-id=\"16v9xid\" data-start=\"5999\" data-end=\"6006\">Nama.<\/li>\n<li data-section-id=\"ppvkl\" data-start=\"6007\" data-end=\"6017\">Jabatan.<\/li>\n<li data-section-id=\"1regs9f\" data-start=\"6018\" data-end=\"6031\">Departemen.<\/li>\n<li data-section-id=\"1vubh76\" data-start=\"6032\" data-end=\"6064\">Nomor karyawan jika digunakan.<\/li>\n<\/ul>\n<h3 data-section-id=\"1jep5bf\" data-start=\"6066\" data-end=\"6084\">3. Nomor Surat<\/h3>\n<p data-start=\"6086\" data-end=\"6151\">Nomor dokumen untuk mempermudah administrasi dan pencarian arsip.<\/p>\n<h3 data-section-id=\"10x6cpm\" data-start=\"6153\" data-end=\"6176\">4. Jenis Peringatan<\/h3>\n<p data-start=\"6178\" data-end=\"6187\">Misalnya:<\/p>\n<p data-start=\"6189\" data-end=\"6224\"><strong data-start=\"6189\" data-end=\"6224\">SURAT PERINGATAN PERTAMA (SP 1)<\/strong><\/p>\n<h3 data-section-id=\"z93egn\" data-start=\"6226\" data-end=\"6251\">5. Uraian Pelanggaran<\/h3>\n<p data-start=\"6253\" data-end=\"6290\">Jelaskan pelanggaran secara spesifik.<\/p>\n<p data-start=\"6292\" data-end=\"6316\">Hindari kalimat seperti:<\/p>\n<blockquote data-start=\"6318\" data-end=\"6357\">\n<p data-start=\"6320\" data-end=\"6357\">&#8220;Karyawan memiliki sikap yang buruk.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"6359\" data-end=\"6370\">Lebih baik:<\/p>\n<blockquote data-start=\"6372\" data-end=\"6491\">\n<p data-start=\"6374\" data-end=\"6491\">&#8220;Berdasarkan catatan kehadiran, karyawan tercatat datang terlambat sebanyak 5 kali selama periode 1\u201331 Agustus 2026.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<h3 data-section-id=\"18irasm\" data-start=\"6493\" data-end=\"6512\">6. Dasar Aturan<\/h3>\n<p data-start=\"6514\" data-end=\"6609\">Cantumkan pasal atau ketentuan dalam peraturan perusahaan, PKB, atau dokumen lain yang relevan.<\/p>\n<h3 data-section-id=\"15jsf44\" data-start=\"6611\" data-end=\"6636\">7. Tindakan Perbaikan<\/h3>\n<p data-start=\"6638\" data-end=\"6692\">Jelaskan apa yang diharapkan perusahaan dari karyawan.<\/p>\n<h3 data-section-id=\"sneu20\" data-start=\"6694\" data-end=\"6713\">8. Masa Berlaku<\/h3>\n<p data-start=\"6715\" data-end=\"6758\">Cantumkan tanggal mulai dan berakhirnya SP.<\/p>\n<h3 data-section-id=\"qe3wbm\" data-start=\"6760\" data-end=\"6778\">9. Konsekuensi<\/h3>\n<p data-start=\"6780\" data-end=\"6902\">Jelaskan tindakan yang mungkin diambil apabila pelanggaran kembali terjadi, dengan tetap mengacu pada aturan yang berlaku.<\/p>\n<h3 data-section-id=\"18hfp7o\" data-start=\"6904\" data-end=\"6924\">10. Tanda Tangan<\/h3>\n<p data-start=\"6926\" data-end=\"7037\">Surat dapat ditandatangani pihak perusahaan dan diterima oleh karyawan sesuai prosedur administrasi perusahaan.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"nqaqyb\" data-start=\"7044\" data-end=\"7078\">Contoh Surat Peringatan Karyawan<\/h1>\n<p data-start=\"7080\" data-end=\"7134\">Berikut contoh sederhana yang dapat menjadi referensi:<\/p>\n<p data-start=\"7136\" data-end=\"7171\"><strong data-start=\"7136\" data-end=\"7171\">SURAT PERINGATAN PERTAMA (SP 1)<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"7173\" data-end=\"7197\">Nomor: 001\/SP-HR\/IX\/2026<\/p>\n<p data-start=\"7199\" data-end=\"7233\">Yang bertanda tangan di bawah ini:<\/p>\n<p data-start=\"7235\" data-end=\"7310\">Nama: [Nama HR\/Atasan]<br data-start=\"7257\" data-end=\"7260\" \/>Jabatan: [Jabatan]<br data-start=\"7278\" data-end=\"7281\" \/>Perusahaan: [Nama Perusahaan]<\/p>\n<p data-start=\"7312\" data-end=\"7377\">Dengan ini memberikan <strong data-start=\"7334\" data-end=\"7369\">Surat Peringatan Pertama (SP 1)<\/strong> kepada:<\/p>\n<p data-start=\"7379\" data-end=\"7448\">Nama: [Nama Karyawan]<br data-start=\"7400\" data-end=\"7403\" \/>Jabatan: [Jabatan]<br data-start=\"7421\" data-end=\"7424\" \/>Departemen: [Departemen]<\/p>\n<p data-start=\"7450\" data-end=\"7561\">Berdasarkan hasil pemeriksaan dan catatan perusahaan, yang bersangkutan diketahui melakukan pelanggaran berupa:<\/p>\n<p data-start=\"7563\" data-end=\"7604\"><strong data-start=\"7563\" data-end=\"7604\">[Uraikan pelanggaran secara spesifik]<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"7606\" data-end=\"7711\">Pelanggaran tersebut tidak sesuai dengan ketentuan <strong data-start=\"7657\" data-end=\"7683\">[nama peraturan\/pasal]<\/strong> yang berlaku di perusahaan.<\/p>\n<p data-start=\"7713\" data-end=\"7850\">Melalui surat ini, perusahaan meminta yang bersangkutan untuk memperbaiki pelanggaran tersebut dan mematuhi seluruh ketentuan perusahaan.<\/p>\n<p data-start=\"7852\" data-end=\"7933\">Surat Peringatan Pertama ini berlaku sejak <strong data-start=\"7895\" data-end=\"7932\">[tanggal] sampai dengan [tanggal]<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"7935\" data-end=\"8123\">Apabila terjadi pelanggaran kembali selama periode tersebut, perusahaan dapat mengambil tindakan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perusahaan dan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.<\/p>\n<p data-start=\"8125\" data-end=\"8224\">Demikian surat peringatan ini dibuat untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.<\/p>\n<p data-start=\"8226\" data-end=\"8247\"><strong data-start=\"8226\" data-end=\"8247\">[Kota], [Tanggal]<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"8249\" data-end=\"8287\">HR\/Manajemen<br data-start=\"8261\" data-end=\"8264\" \/>[Nama dan Tanda Tangan]<\/p>\n<p data-start=\"8289\" data-end=\"8337\">Karyawan yang menerima<br data-start=\"8311\" data-end=\"8314\" \/>[Nama dan Tanda Tangan]<\/p>\n<h1 data-section-id=\"40s12d\" data-start=\"8344\" data-end=\"8399\">Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari HR Saat Membuat SP<\/h1>\n<p data-start=\"8401\" data-end=\"8494\">Surat peringatan merupakan dokumen resmi. Karena itu, HR perlu berhati-hati dalam membuatnya.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"gywlrk\" data-start=\"8496\" data-end=\"8531\">1. Tidak Menjelaskan Pelanggaran<\/h2>\n<p data-start=\"8533\" data-end=\"8554\">Jangan hanya menulis:<\/p>\n<blockquote data-start=\"8556\" data-end=\"8593\">\n<p data-start=\"8558\" data-end=\"8593\">&#8220;Anda telah melakukan pelanggaran.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"8595\" data-end=\"8669\">Jelaskan apa pelanggarannya, kapan terjadi, dan aturan apa yang dilanggar.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"1jj6tu0\" data-start=\"8671\" data-end=\"8705\">2. Menggunakan Bahasa Emosional<\/h2>\n<p data-start=\"8707\" data-end=\"8764\">SP sebaiknya menggunakan bahasa profesional dan objektif.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"apmlsx\" data-start=\"8766\" data-end=\"8792\">3. Tidak Memiliki Bukti<\/h2>\n<p data-start=\"8794\" data-end=\"8877\">Sebelum memberikan SP, HR sebaiknya memastikan terdapat dokumentasi yang mendukung.<\/p>\n<p data-start=\"8879\" data-end=\"8889\">Contohnya:<\/p>\n<ul data-start=\"8891\" data-end=\"8981\">\n<li data-section-id=\"12w4bbr\" data-start=\"8891\" data-end=\"8906\">Data absensi.<\/li>\n<li data-section-id=\"1jlm1ep\" data-start=\"8907\" data-end=\"8924\">Laporan atasan.<\/li>\n<li data-section-id=\"1sv7la7\" data-start=\"8925\" data-end=\"8940\">Berita acara.<\/li>\n<li data-section-id=\"1cwct64\" data-start=\"8941\" data-end=\"8960\">Bukti komunikasi.<\/li>\n<li data-section-id=\"1vbbtqw\" data-start=\"8961\" data-end=\"8981\">Dokumen pekerjaan.<\/li>\n<\/ul>\n<h2 data-section-id=\"11ldlpx\" data-start=\"8983\" data-end=\"9025\">4. Tidak Mengacu pada Aturan Perusahaan<\/h2>\n<p data-start=\"9027\" data-end=\"9110\">Pelanggaran sebaiknya dikaitkan dengan ketentuan yang memang berlaku bagi karyawan.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"qetj0w\" data-start=\"9112\" data-end=\"9139\">5. Tidak Menyimpan Arsip<\/h2>\n<p data-start=\"9141\" data-end=\"9254\">SP perlu disimpan sebagai bagian dari dokumentasi HR sesuai kebijakan perusahaan dan ketentuan perlindungan data.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"6auqae\" data-start=\"9261\" data-end=\"9308\">Bagaimana HR Menentukan Pelanggaran Karyawan?<\/h1>\n<p data-start=\"9310\" data-end=\"9360\">HR sebaiknya menggunakan pendekatan yang objektif.<\/p>\n<p data-start=\"9362\" data-end=\"9399\">Misalnya, perusahaan memiliki aturan:<\/p>\n<p data-start=\"9401\" data-end=\"9425\"><strong data-start=\"9401\" data-end=\"9425\">Jam masuk: 08.00 WIB<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"9427\" data-end=\"9461\">Kemudian data absensi menunjukkan:<\/p>\n<div class=\"group TyagGW_tableContainer\">\n<div class=\"TyagGW_tableWrapper flex flex-col-reverse w-fit\" tabindex=\"-1\">\n<table class=\"w-fit min-w-(--thread-content-width)\" data-start=\"9463\" data-end=\"9656\">\n<thead data-start=\"9463\" data-end=\"9495\">\n<tr data-start=\"9463\" data-end=\"9495\">\n<th class=\"last:pe-10\" data-start=\"9463\" data-end=\"9473\" data-col-size=\"sm\">Tanggal<\/th>\n<th class=\"last:pe-10\" data-start=\"9473\" data-end=\"9485\" data-col-size=\"sm\">Jam Masuk<\/th>\n<th class=\"last:pe-10\" data-start=\"9485\" data-end=\"9495\" data-col-size=\"sm\">Status<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody data-start=\"9511\" data-end=\"9656\">\n<tr data-start=\"9511\" data-end=\"9546\">\n<td data-start=\"9511\" data-end=\"9525\" data-col-size=\"sm\">3 September<\/td>\n<td data-start=\"9525\" data-end=\"9533\" data-col-size=\"sm\">08.17<\/td>\n<td data-start=\"9533\" data-end=\"9546\" data-col-size=\"sm\">Terlambat<\/td>\n<\/tr>\n<tr data-start=\"9547\" data-end=\"9582\">\n<td data-start=\"9547\" data-end=\"9561\" data-col-size=\"sm\">7 September<\/td>\n<td data-start=\"9561\" data-end=\"9569\" data-col-size=\"sm\">08.22<\/td>\n<td data-start=\"9569\" data-end=\"9582\" data-col-size=\"sm\">Terlambat<\/td>\n<\/tr>\n<tr data-start=\"9583\" data-end=\"9619\">\n<td data-start=\"9583\" data-end=\"9598\" data-col-size=\"sm\">12 September<\/td>\n<td data-start=\"9598\" data-end=\"9606\" data-col-size=\"sm\">08.15<\/td>\n<td data-start=\"9606\" data-end=\"9619\" data-col-size=\"sm\">Terlambat<\/td>\n<\/tr>\n<tr data-start=\"9620\" data-end=\"9656\">\n<td data-start=\"9620\" data-end=\"9635\" data-col-size=\"sm\">18 September<\/td>\n<td data-start=\"9635\" data-end=\"9643\" data-col-size=\"sm\">08.20<\/td>\n<td data-start=\"9643\" data-end=\"9656\" data-col-size=\"sm\">Terlambat<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<\/div>\n<p data-start=\"9658\" data-end=\"9738\">Data seperti ini jauh lebih kuat sebagai dasar evaluasi dibandingkan pernyataan:<\/p>\n<blockquote data-start=\"9740\" data-end=\"9774\">\n<p data-start=\"9742\" data-end=\"9774\">&#8220;Karyawan ini sering terlambat.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<h1 data-section-id=\"4wevck\" data-start=\"9781\" data-end=\"9825\">Peran Sistem Absensi dalam Administrasi SP<\/h1>\n<p data-start=\"9827\" data-end=\"9903\">Digitalisasi absensi dapat membantu HR memiliki data yang lebih terstruktur.<\/p>\n<p data-start=\"9905\" data-end=\"9932\">Misalnya, HR dapat melihat:<\/p>\n<ul data-start=\"9934\" data-end=\"10073\">\n<li data-section-id=\"17ogh80\" data-start=\"9934\" data-end=\"9954\">Riwayat kehadiran.<\/li>\n<li data-section-id=\"h8j1e4\" data-start=\"9955\" data-end=\"9970\">Jam check-in.<\/li>\n<li data-section-id=\"klzj9\" data-start=\"9971\" data-end=\"9987\">Jam check-out.<\/li>\n<li data-section-id=\"iojc5v\" data-start=\"9988\" data-end=\"10004\">Keterlambatan.<\/li>\n<li data-section-id=\"db7zk2\" data-start=\"10005\" data-end=\"10022\">Ketidakhadiran.<\/li>\n<li data-section-id=\"2pasm7\" data-start=\"10023\" data-end=\"10040\">Pengajuan izin.<\/li>\n<li data-section-id=\"2iez40\" data-start=\"10041\" data-end=\"10058\">Pengajuan cuti.<\/li>\n<li data-section-id=\"1vtt56f\" data-start=\"10059\" data-end=\"10073\">Data lembur.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"10075\" data-end=\"10163\">Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi apabila perusahaan perlu melakukan pembinaan.<\/p>\n<p data-start=\"10165\" data-end=\"10295\">Namun, <strong data-start=\"10172\" data-end=\"10294\">data absensi sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bukti pelanggaran tanpa melihat konteks dan aturan yang berlaku<\/strong>.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"1f2ukgv\" data-start=\"10302\" data-end=\"10357\">Kelola Data Karyawan Lebih Praktis dengan Kantor Kita<\/h1>\n<p data-start=\"10359\" data-end=\"10462\">Untuk HR, pencatatan pelanggaran sering kali berkaitan dengan data kehadiran dan administrasi karyawan.<\/p>\n<p data-start=\"10464\" data-end=\"10559\"><a href=\"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/\"><strong data-start=\"10464\" data-end=\"10479\">Kantor Kita<\/strong><\/a> membantu perusahaan mengelola berbagai kebutuhan HR secara digital, mulai dari:<\/p>\n<ul data-start=\"10561\" data-end=\"10777\">\n<li data-section-id=\"16gcyp4\" data-start=\"10561\" data-end=\"10578\">Absensi online.<\/li>\n<li data-section-id=\"l1y6hx\" data-start=\"10579\" data-end=\"10596\">GPS attendance.<\/li>\n<li data-section-id=\"tflkmn\" data-start=\"10597\" data-end=\"10619\">Selfie verification.<\/li>\n<li data-section-id=\"5oe09w\" data-start=\"10620\" data-end=\"10635\">Jadwal kerja.<\/li>\n<li data-section-id=\"690vpi\" data-start=\"10636\" data-end=\"10644\">Shift.<\/li>\n<li data-section-id=\"nm2npu\" data-start=\"10645\" data-end=\"10661\">Cuti dan izin.<\/li>\n<li data-section-id=\"us1slj\" data-start=\"10662\" data-end=\"10671\">Lembur.<\/li>\n<li data-section-id=\"an1wq6\" data-start=\"10672\" data-end=\"10688\">Data karyawan.<\/li>\n<li data-section-id=\"14qklmm\" data-start=\"10689\" data-end=\"10709\">Laporan kehadiran.<\/li>\n<li data-section-id=\"197832r\" data-start=\"10710\" data-end=\"10720\">Payroll.<\/li>\n<li data-section-id=\"14l541r\" data-start=\"10721\" data-end=\"10741\">Slip gaji digital.<\/li>\n<li data-section-id=\"1xa800u\" data-start=\"10742\" data-end=\"10777\">Monitoring karyawan multi-cabang.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"10779\" data-end=\"10930\">Dengan data yang lebih terstruktur, HR dapat melakukan evaluasi berdasarkan catatan yang tersedia dan mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"1yovt7c\" data-start=\"10937\" data-end=\"10986\">Apakah Surat Peringatan Bisa Menjadi Dasar PHK?<\/h1>\n<p data-start=\"10988\" data-end=\"11131\">Dalam kondisi tertentu, pelanggaran yang telah melalui mekanisme peringatan dapat menjadi bagian dari proses PHK sesuai ketentuan yang berlaku.<\/p>\n<p data-start=\"11133\" data-end=\"11422\">PP Nomor 35 Tahun 2021 mengatur mekanisme PHK, termasuk kondisi ketika pekerja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau PKB dan telah diberikan surat peringatan secara berturut-turut sesuai ketentuan.<\/p>\n<p data-start=\"11424\" data-end=\"11465\">Namun, <strong data-start=\"11431\" data-end=\"11464\">SP bukan berarti PHK otomatis<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"11467\" data-end=\"11814\">Jika terjadi perselisihan mengenai PHK, terdapat mekanisme penyelesaian hubungan industrial. Kemnaker menjelaskan bahwa apabila pekerja menolak PHK, terdapat tahapan penolakan dan perundingan bipartit sebelum masuk ke mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial apabila tidak tercapai kesepakatan.<\/p>\n<p data-start=\"11816\" data-end=\"11920\">Karena itu, HR perlu memastikan setiap tindakan dilakukan berdasarkan dokumen dan prosedur yang berlaku.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"1n19aex\" data-start=\"11927\" data-end=\"11939\">Kesimpulan<\/h1>\n<p data-start=\"11941\" data-end=\"12173\"><strong data-start=\"11941\" data-end=\"12037\">Surat Peringatan merupakan salah satu instrumen penting dalam pengelolaan disiplin karyawan.<\/strong> SP tidak hanya berfungsi sebagai teguran, tetapi juga sebagai dokumentasi bahwa perusahaan telah melakukan pembinaan terhadap karyawan.<\/p>\n<p data-start=\"12175\" data-end=\"12390\">Pembuatan SP sebaiknya dilakukan secara objektif, berdasarkan bukti, mencantumkan pelanggaran secara jelas, serta mengacu pada perjanjian kerja, peraturan perusahaan, PKB, dan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.<\/p>\n<p data-start=\"12392\" data-end=\"12643\">Bagi HR, sistem digital seperti <a href=\"https:\/\/app.kantorkita.co.id\/login\"><strong data-start=\"12424\" data-end=\"12439\">Kantor Kita<\/strong><\/a> dapat membantu menyediakan data kehadiran dan administrasi karyawan secara lebih terstruktur. Dengan begitu, proses evaluasi dan pembinaan karyawan dapat dilakukan berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surat Peringatan Karyawan: Jenis, Aturan, dan Contohnya Surat Peringatan (SP) merupakan salah satu bentuk pembinaan yang digunakan perusahaan ketika karyawan melakukan pelanggaran terhadap aturan, tata tertib, atau kewajiban yang telah ditetapkan. Bagi HR, surat peringatan bukan sekadar surat teguran. Dokumen ini juga menjadi bagian dari administrasi ketenagakerjaan yang perlu dibuat secara jelas, objektif, dan sesuai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":9238,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2491],"tags":[2798,1098,2802,51,341,220,2588,2799,2801,2795,2796,2797,2794,1099,2800],"class_list":{"0":"post-9237","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-education","8":"tag-aturan-surat-peringatan","9":"tag-contoh-surat-peringatan","10":"tag-disiplin-karyawan","11":"tag-hrd","12":"tag-hris","13":"tag-kantor-kita","14":"tag-manajemen-karyawan","15":"tag-masa-berlaku-sp","16":"tag-sanksi-karyawan","17":"tag-sp-1","18":"tag-sp-2","19":"tag-sp-3","20":"tag-sp-karyawan","21":"tag-surat-peringatan-karyawan","22":"tag-surat-teguran-karyawan"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9237"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9237"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9239,"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9237\/revisions\/9239"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kantorkita.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}